Kematian Yesus

Kematian Yesus

Pemain:
– Narator
– Pengatur peralatan drama dan dekorasi
– Juru rekam suara dan efek suara
– Pembuat bayangan
– Pilatus
– Kumpulan orang banyak (bisa orang biasa atau prajurit)
– Prajurit 1 dan 2
– Yesus
– Yohanes
– Maria
– Orang 1 dan 2
– Maria (istri Kleopas)
– Maria Magdalena
– Penjahat 1 dan 2
– Yusuf dari Arimatea
– Narator

Peralatan untuk drama bayangan:
– Efek suara dan suara.
– Tape jika efek suara harus direkam terlebih dahulu.
– Perlengkapan pertunjukan wayang (OHP dan layar atau kain yang
dibentangkan dan disorot oleh lampu).
– Bayangan/siluet: tiga salib, tiga tubuh/mayat yang bisa
dilepaskan, dua prajurit Roma, tiga wanita menunduk sedih, tiga
orang berjubah berdiri tegak, mahkota duri, gunung Golgota,
tulisan untuk salib Yesus, Yusuf memegang kain kafan.
– Peralatan untuk drama atau pantomim: pakaian zaman dahulu; mahkota
duri; jubah ungu, jubah panjang, dan jubah dalam untuk Yesus;
cambuk dan tongkat; ember, teko air, dan handuk; tiga salib (satu
dengan paku besar, dua dengan tali untuk mengikat tangan); palu,
dadu, ember dan spons, tulisan untuk salib, dan tombak; kain kafan
(kain yang panjang). Panggung harus diatur terlebih dahulu dengan
salib yang sudah ditegakkan atau dipasang.

Narator:
“Para pengikut-Nya tahu, tetapi tidak memahami bahwa Yesus dari
Nazaret adalah Kristus, Mesias yang dijanjikan kepada Bangsa yang
Terpilih sejak awal sejarah mereka. Kebanyakan orang Yahudi percaya
bahwa Allah akan memberikan Mesias untuk mendirikan kerajaan yang
lebih besar dari kerajaan Raja Daud atau Raja Salomo. Mengingat
sejarah kekalahan mereka dari bangsa-bangsa lain, mereka pun
mempercayai hal tersebut. Tidak mudah untuk menerima Mesias yang
akan menyelamatkan mereka dari penjajahan dosa dan kematian
sementara penjajahan Romawi terus-menerus menyengsarakan mereka.

Ketika Yesus memasuki Yerusalem lima hari sebelumnya, orang-orang
menyebut-Nya Raja, mengakui Dia sebagai Kristus yang telah lama
dijanjikan. Setiap hari ribuan dari mereka berkumpul di Bait Allah
untuk mendengarkan Dia. Mereka berharap Dia melakukan sesuatu.
Namun, ketika Pilatus menawarkan pilihan untuk membebaskan Yesus
atau Barabas, secara bersama-sama mereka memilih Barabas yang mereka
anggap sebagai pejuang kebebasan. Yesus dihadapkan pada takdir yang
sudah diketahui-Nya ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Dia harus
mati di kayu salib, suatu cara mati yang sangat hina sehingga
undang-undang melarang hukuman tersebut dilakukan terhadap warga
negara Romawi.

Ketika Pontius Pilatus, kepala pemerintahan Romawi yang ditunjuk
untuk mengatur orang-orang Israel, melihat bahwa dia tidak dapat
meyakinkan orang banyak supaya menyelamatkan Yesus dan bukan Barabas
yang kejam, dia mengambil tempat air, sebuah ember, dan sebuah
handuk.”

[Pilatus masuk dengan membawa ember, dll., diikuti oleh orang
banyak.]

Pilatus:
[Menuangkan air ke dalam ember.] “Aku tidak mendapati kejahatan-Nya
[mencuci tangan]. Aku tidak bertanggung jawab atas kematian orang
ini. Ini adalah tanggung jawab kalian!”

Orang banyak:
“Salibkan Dia!”

[Pilatus keluar diikuti oleh orang banyak.]

Narator:
“Untuk menyenangkan dan menenangkan orang banyak, Pilatus
menyerahkan Yesus kepada prajurit-prajuritnya untuk disiksa. Para
prajurit itu membawa Yesus ke halaman istana gubernur. Di sana
mereka melepas pakaian-Nya dan mencambuki-Nya.”

[Para prajurit masuk menyeret Yesus dan mencambuki Dia.]

Narator:
“Mereka mengenakan jubah ungu pada-Nya dan di kepala-Nya mereka
kenakan mahkota duri.”

[Para prajurit mengenakan jubah dan mahkota pada Yesus.]

Prajurit 1:
[Dengan mengejek.] “Ini, berikan tongkat ini kepada-Nya. Ini dapat
menjadi tongkat lambang kekuasaan-Nya. Terimalah, Raja orang
Yahudi.”

Prajurit 2:
[Tertawa] “Menunduklah kepada-Nya! Dia adalah seorang raja atau
begitulah Dia mengakui diri-Nya. Inilah pendapatku tentang seorang
pengkhianat.” [Meludah.]

Prajurit 3:
“Jika kamu sangat berkuasa, selamatkan diri-Mu sendiri. Aku berani
bertaruh, Kamu tidak akan dapat membunuh kami! Coba, sakitkah ini
ketika Kamu menjadi raja?” [Mencambuk Yesus.]

Narator:
“Ketika mereka telah puas menyiksa-Nya, mereka membawa Dia ke Bukit
Tengkorak yang disebut Golgota.”

[Para prajurit membawa Yesus dan masuk lagi dari arah yang berbeda
diikuti oleh orang banyak, ketiga Maria, dan Yohanes.]

Narator:
“Di sana mereka melepas pakaian-Nya dan menyalibkan Dia.”

[Para prajurit melepas jubah ungu Yesus dan jubah luar-Nya dan
membaringkan Dia di sebuah palang dan memaku tangannya dengan palu.
Yesus mengerang; para pengikut-Nya sedih dan meratap. Para prajurit
meletakkan tulisan di atas-Nya.]

Narator:
“Di atas kepala Yesus mereka letakkan sebuah tulisan `Inilah Yesus
Raja Orang Yahudi`.”

[Isak tangis terus berlanjut.]

Narator:
“Di kaki salib Yesus ada Maria ibu Yesus, Maria istri Kleopas,
Yohanes, dan Maria Magdalena. Para prajurit membaca tulisan di salib
Yesus. Pilatus menuliskannya dalam bahasa Latin, Ibrani, dan
Yunani.”

Prajurit 1:
“Selamatkanlah diri-Mu sendiri jika Kamu adalah Raja orang Yahudi!”

Prajurit 2:
“Ya, turunlah dari salib itu jika Kamu memang pembuat mukjizat!”

Yesus:
“Bapa, ampunilah mereka; mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

[Para prajurit menyalibkan penjahat 1; ketika penjahat 1 berbicara
mereka menyalibkan penjahat 2.]

Narator:
“Bersama dengan Dia, mereka juga menyalibkan dua penjahat, satu di
sebelah kiri-Nya dan satu di sebelah kanan-Nya.”

Penjahat 1:
“Kata-Mu Kamu adalah Mesias! Selamatkanlah diri-Mu sendiri dan
kami!”

Penjahat 2:
“Apakah engkau tidak takut pada Tuhan? Dia sekarat seperti kita.
Kita adalah penjahat …. Tetapi Dia tidak melakukan kejahatan apa
pun. Yesus, ingatlah aku ketika Engkau sampai di Kerajaan-Mu.”

Yesus:
“Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam
Firdaus.”

Narator:
“Yesus melihat ibu-Nya di kaki salib-Nya. Di sampingnya berdirilah
salah satu murid-Nya.”

Yesus:
[Kepada Maria, pelan dan menahan sakit.] “Ibu, inilah Anakmu ….”
[Berhenti sebentar dan memandang dalam-dalam murid-Nya.] “Dia
sekarang adalah ibumu.”

[Isak tangis terdengar lebih keras dan berangsur-angsur menghilang.]

Narator:
“Para prajurit membagi jubah-Nya dan mengundi untuk mendapatkan
jubah itu.”

[Para prajurit mengundi dan bertaruh dengan suara pelan.]

Narator:
“Mereka yang lewat di tempat itu menggelengkan kepala dan mengolok-
olok Yesus.”

[Orang 1 dan 2 masuk.]

Orang 1:
“Kata-Mu, Engkau akan merubuhkan Bait Allah dan akan membangunnya
kembali dalam tiga hari.”

Orang 2:
“Selamatkanlah diri-Mu sendiri jika Engkau adalah Anak Allah!
Turunlah dari salib itu!”

Yesus:
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Yohanes:
“Ia memuji Allah dengan ucapan seperti yang tertulis dalam Kitab
Suci.”

Orang 1:
“Dia memanggil Elia.”

Yesus:
“Aku haus.”

Orang 2:
“Tunggu dulu! Janganlah kita menyembuhkan kesakitan-Nya dengan
anggur yang murah. Kita lihat saja apakah Elia akan datang untuk
menyelamatkan Dia.”

Yesus:
“Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. [Berhenti sejenak]
Sudah selesai.”

[Orang 1 dan 2 keluar, isak tangis terdengar lebih keras dan
berangsur-angsur menghilang.]

Narator:
“Karena hari itu sudah hampir petang dan hari itu adalah persiapan
salah satu hari Sabat terkudus dalam kalender orang Yahudi, para
prajurit mematahkan kaki salah satu penjahat supaya dia mati dan
kemudian kaki penjahat yang lainnya.”

[Suara kayu yang dipukulkan pada kayu, bisa juga suara erangan dan
suara itu diulang tiga kali.]

Narator:
“Namun, ketika mereka sampai pada Yesus, mereka melihat Dia sudah
mati dan mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Namun, salah satu
prajurit menikamkan tombak ke lambung-Nya. Yusuf, orang kaya dari
Arimatea, menghadap Pilatus dan meminta izin untuk menguburkan mayat
Yesus.”

[Yusuf masuk dengan membawa kain; dia dan Yohanes memindahkan Yesus
dari panggung diikuti oleh Maria; para prajurit memindahkan para
penjahat.]

Narator:
“Dia mengambil mayat Yesus dan membungkus-Nya dengan kain lenan yang
baru. Dengan para pengikut Yesus lainnya, dia membawa mayat itu dan
menguburkannya di sebuah kubur yang masih baru yang digali dari
bukit karang. Mereka menutup pintu masuknya dengan sebuah batu besar
ketika Maria Magdalena dan Maria ibu Yusuf melihatnya.”

[Suara isak tangis berangsur-angsur menghilang dan lampu dimatikan.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: