“Boomm Kejutan di Awal Cerita”

Metode dalam Mengajarkan Kematian Yesus: “Boomm Kejutan di Awal Cerita”

Salah satu teknik membuat anak-anak “tertarik” mendengarkan suatu cerita adalah dengan menyiapkan suatu “boomm kejutan”, yaitu aktivitas, acara, ilustrasi, bunyi-bunyian atau cerita pendahuluan. Itu semua akan membuat anak “tertarik” dan mendengarkan dengan tekun cerita berikutnya. Teknik ini juga penting dipakai untuk mengakhiri suatu cerita agar terus meninggalkan kesan yang mendalam. Juga dapat untuk menarik perhatian anak-anak yang sudah gelisah (tidak serius mendengarkan) cerita. Sehubungan dengan peringatan Kematian Kristus, berikut ini beberapa teknik dalam BOOMM kejutan yang dapat Anda gunakan.

Cerita/Ilustrasi Singkat

Sering sebelum cerita utama, berikan cerita singkat sebagai pengantar cerita. Cerita singkat ini haruslah dipilih yang singkat dan mengena dengan tujuan cerita.

Misal dalam Cerita: “Tuhan Yesus mati di salib”
Tujuan cerita: “Betapa setianya Tuhan menebus dosa kita”.

Ceritakan induk ayam yang rela mati terbakar demi melindungi anak- anaknya dalam suatu kebakaran. Ayam tersebut melindungi anak-anaknya dalam sayapnya. Ia mati namun anaknya selamat. Cerita pengantar ini dapat disajikan secara menarik sebagai berikut: “Adik-adik, siapa yang pernah kena api? Jika kena api rasanya bagaimana? Suatu saat ada suatu kebakaran di sebuah rumah. Api menjilat dan membakar apa saja, meja, kursi, lemari dan apa saja. Betapa kagetnya Pak Hasan, pemilik rumah itu, ketika ia melihat ayam betinanya yang barusan menetas terlihat mati terbakar, hangus. Tapi aneh, ada sesuatu yang bergerak-gerak di bawah sayap yang sudah hangus itu. Pak Hasan segera mengangkat bangkai ayam tersebut. Hei… sungguh ajaib, nampak beberapa ekor ayam kecil yang lucu tampak sehat dan mereka selamat. Pak Hasan terharu. Betapa ayam betina ini sudah berkorban untuk anak-anaknya. Panasnya api ia terima walaupun sebenarnya ia bisa lari. Namun demi, demi anak-anaknya tercinta ia rela mati ….”

Tapi hati-hati teknik ini akan “membahayakan” cerita sesungguhnya jika cerita pengantar ini terlalu panjang atau tidak sesuai dengan tujuan cerita.

Kalimat Puitis/Pepatah

Sebagai “penarik” perhatian anak, di awal cerita dapat juga diberikan semacam slogan/pepatah atau kalimat yang puitis. Sebagai contoh, kita dapat memulai cerita dengan berteriak dengan keras dan tegas: “MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA ATAU MATI ….! DARAHKU KUPERSEMBAHKAN AGAR ENGKAU MERDEKA!” Dengan suara lebih lembut, jelaskan:

“Adik-adik, para pejuang pada waktu itu bertekad, Indonesia harus merdeka, kalau perlu kemerdekaan itu harus ditebus dengan darah! Walau harus mati mereka rela, demi kita bisa merdeka ….” (Langsung masuk ke cerita inti tentang Kristus yang rela mati untuk menebus dosa kita). Boleh digunakan peribahasa, pepatah dan lain-lain slogan “bermakna” lainnya asal dikuasai benar arti dan maknanya.

Mendramatisasi Awal Cerita

Kebaikan teknik ini langsung menuju kepada inti cerita (tidak bertele-tele). Misal cerita tentang penyaliban Tuhan Yesus. Dimulai dengan kekasaran dan penghinaan para prajurit kepada Yesus sebelum menyalibkan Yesus. Bisa didramatisasi sikap-sikap prajurit tersebut: (Bicara keras, lantang, sikap congkak dan bengis) “Maju! Ayo maju! Hayooo jalan! Katanya Mesias, lha kok loyo … cepaattt … (tam bunyi cambuk bergema keras). Hei ternyata kamu manusia biasa juga ya? Kenapa kamu mengaku Juru Selamat hah! Dasar tidak tahu malu! Ayooo … jalan!” (dan langsung disambung dengan cerita sesungguhnya).

Tokoh Tersembunyi

Di awal cerita guru langsung mulai berekspresi sedih dan terisak- isak menangis terisak-isak. Lalu dengan suara histeris berkata: “Tidak! la tidak boleh mati! Tidak! Tidaaakkkk! Oh.. Tuhan kenapa Engkau mati hu..hu…hu Dulu aku begitu sombong mau mati demi Engkau, tetapi nyatanya aku takut…. Tuhan… huu..hu…hu….! Tahukah kalian apa yang terjadi dengan guruku …. ? Apaaa kalian tidak tahu? …. Baik … baik akan kuceritakan …. waktu itu ….” (Masuk ke cerita tentang kematian Yesus dengan teknik seolah-olah Anda adalah saksi mata kejadian itu).

Di akhir cerita tanyakan pada anak-anak “Siapakah pencerita itu?” (jawab yang benar adalah Petrus)

Cerita di dalam Cerita

Kreasi lain adalah dengan “membungkus” suatu cerita dalam “suatu cerita tambahan” untuk membuat “sajian” cerita menjadi lebih menarik, misal dengan gaya kagum — suara penuh rasa kagum — ceritakan:

“Malam itu Kiki sedang tidur sendirian di kamarnya. Tiba-tiba…. glegar….darr…darrr suara kilat menyambar-nyambar. Kiki takut, ia segera berdoa: “Tuhan, tolonglah aku !”. Kemudian dengan penuh penyerahan kepada Yesus, Kiki memejamkan matanya. Tanpa disadarinya ia bermimpi sepertinya benar-benar terjadi …. Kiki sampai berteriak, “Jangan …! Jangan kau seret Yesusku sekejam itu. Tolonglah bapak prajurit … tolong! Hentikan! Lihat darah-Nya sangat banyak! Pak, ampunilah Dia. Tetapi rupanya prajurit itu tidak memperdulikan dia dan ….”

Masuk ke cerita utama dari Yesus diseret prajurit ke Golgota sampai selesainya, kemudian diakhiri dengan: “Jangan … jangan …. !!!” (berteriaklah keras!) “Ki …Kiki kenapa engkau berteriak-teriak terus”, Kata Papa Kiki yang membangunkan Kiki. Kiki terkejut rupanya ia sedang bermimpi. “Papa, tadi Kiki bermimpi seolah-olah Kiki melihat sendiri penyaliban Tuhan Yesus di bukit Golgota ….”

Suara Tiruan/Bunyi-Bunyian

Teknik ini sangat mudah dan sangat disukai anak-anak. Banyak bunyi yang dapat ditirukan dalam suatu cerita, misal dalam cerita: Tuhan Yesus disesah dan disalib. Bunyi suara:

suara cambuk dari prajurit: tar … tar … tar ….
suara sepatu prajurit: tok … tok … tok ….
suara orang banyak berbisik-bisik: sstt … ssstt ….
ketika Yesus terjatuh ke tanah: … brakk … aaahhh
teriakan kasar prajurit: … Ayo … Jalan!

desah napas pemikul salib: … Ohh … ohh … ohh ….
teriakan orang ketakutan: Gelap! … gelllaaappp!
Mulailah cerita dengan memberikan bunyi-bunyian suara semacam di atas.
Dan, diteruskan langsung pada alur cerita yang diinginkan.

Kreasi Boom kejutan di awal cerita ini sangat banyak. Keberanian guru menirukan berbagai macam suara: binatang, alam, atau suara orang. Keberanian guru untuk “berakting” sangat menentukan. Sebaiknya, boom kejutan ini dilakukan secara “tiba-tiba” di awal acara. Dengan volume suara yang cukup keras, sehingga anak-anak “tersentak heran” dan tertarik untuk mendengarkan cerita selanjutnya.

Boom kejutan ini dapat juga dilakukan beberapa kali, terutama pada saat anak-anak “lesu” (mulai gelisah). Atau, pada saat cerita “terasa monoton”. Sebaiknya, akhiri juga suatu cerita dengan boom kejutan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: